Minggu, 12 Februari 2012

CARA MEREVISI DAN MENGUPGRADE PROGRAM “LAYANAN HISAB WAKTU SHOLAT VERSI 2.01”

CARA MEREVISI DAN MENGUPGRADE PROGRAM “LAYANAN HISAB WAKTU SHOLAT  VERSI 2.01”

sebelumnya anda harus baca postingan sebelumnya di
http://liekwasil.blogspot.com/2012/02/aplikasi-hisab-awal-waktu-sholat-form.html
Langkah demi langkahPersiapan
  1. bismillaahirrohmaanirrohiim
  2. Downloadlah file upgrade yang telah penyusun sediakan kemudian bukalah dengan “notepad” atau sejenisnya. Link download ada di bawah.
  3. Bukalah program hisab  tersebut kemudian save as dengan nama baru.terserah anda
  4. Rename sheet “BELUM DIGUNAKAN” menjadi “DAFTAR KOTA” kemudian save.
  5.        gambar 1
  6.  Membuka VBEditor dengan menekan Alt +F11, maka akan terbuka , kemudian carilah “Userform1” kemudian  diklik kanan pilih view object. Maka akan tampak seperti berikut :
  7. gambar2
  8.  Klik textbox untuk mengisi nama kota kemudian hapuslah:
  9. gambar3

  10. gambar4
  11. klik salah satu combobox untuk dikopi, misalnya combobox yang untuk mengisi keterangan “selatan atau utara” yang berada di bawah textbox yang dihapus tadi”
  12. gambar5
  13. Kemudian klik kanan untuk meng-copy dan pasta”
  14. Geserlah ke tempat yang kosong tadi dan diatur panjangnya seperti dibawah ini.
  15. gambar 6

  16. gambar7
  17. Kemudian lihatlah bagian kolom properties, jika belum muncul klik kanan  combobox tersebut kemudian pilih proprtis, maka akan tampak seperti berikut:
  18. Gantilah namanya “combobox1” diganti dengan “CBTAHUN”
  19. Jika sudah benar kemudian save dulu lagi.

  1. Mengganti kode programnya
  2. Carilah userform1 lagi klik kanan pilih view code
  3. Bloklahlah kode tersebut semuanya (Ctrl+A) klik kanan pilih delete
  4. Copilah kode program yang telah dibuka dengan notepad tadi kemudian dipastekan ke tempat yang baru dihapus tadi. Jangan lupa di save. Sampai tahap ini anda telah selesai mengupgrade program ini.
  5. Tutuplah program tersebut  kemudian buka kembalilah.

Jika anda benar dalam mengerjakan langkah- demi langkah tadi maka anda akan mendapatkan beberapa hal baru, isian nama kota sekarang berupa combobox dan setiap kolom isian dan tombol akan muncul “tooltipnya”Cobalah kembali untuk menghitung, masukkan data –data nama kota dan sebagainya kemudian tekan tombol “YA”.Kemudian tekan tombol “SELESAI” dan lihatlah hasilnya.Pindahlah ke tab sheet “DAFTAR KOTA “ yang anda buat tadi , kalau tadi anda memilih memasukkan dalam daftar maka kota yang anda masukkan tadi akan tersimpan, di sheet “DAFTAR KOTA” tersebut, dengan format sebagai berikut :kolom A nomor urutkolom C nama kota kolom D derajat lintangkolom E menit lintangkolom F sekon lintangkolom G utara atau selatankolom H derajat bujurkolom I menit bujurkolom J sekon bujurkolom K barat atau timurkolom L ketinggian tempatkolom M time zone. maka setiap anda memasukkan sebuah nama kota yang baru, anda akan ditawari untuk menyimpannya.Anda pun bisa mengedit daftar kota ini secara manual  mengimpor dari data lain jika anda punya dengan menyesuaikan kolom-kolom tersebut dengan isinya.Kemudian save dan tutup kembali aplikasi ini kemudian buka kembali. Maka daftar kota tadi sudah terintegrasi dalam program, dan sudah muncul dalam pilihan isian nama kota.AlhamdulillaahSelamat mencoba dan semoga berhasil dan bermanfaat

atau silakan download yang sudah jadi di :

http://www.ziddu.com/download/18668538/ASH_SHOLAH_updated.zip.html

Sabtu, 11 Februari 2012

APLIKASI HISAB AWAL WAKTU SHOLAT ( FORM VBA MS EXCEL)

Bismillahirrohmaanirrohiiim
Berangkat dari niat memenuhi keinginan salah seorang sahabat pecinta falak yang beberapa waktu lalu bertanya kepada penulis tentang rumus perhitungan waktu sholat dengan bahasa pemrograman Visual Basic for Application (VBA)nya Ms Excel, alhamdulillah atas kemudahan yang dilimpahkan Alloh, penulis menyusun program /aplikasi sederhana dengan VBA Excel tersebut. Seluruh rumus full penyusun tulis dalam  kode program VBA, cell semata-mata hanya untuk mendisplay hasil akhir yang berupa jadwal waktu sholat. Secara garis besar program ini sama dengan program serupa yang pernah penulis buat dan dan bagikan lewat email,  Cuma bedanya kalu yang dahulu formulanya langsung ditulis pada cell Ms excel, maka kali ini menggunakan form isian tampilannya lebih menarik dan professional. Pemakai akan diminta untuk mengisikan data lokasi yang akan dihitung, begitu juga tanggal, bulan tahun dan beberapa data lain yang diperlukan untuk pembuatan jadwal waktu sholat.
Jika anda sering membuat jadwal sholat untuk untuk bulan Romadlon maupun untuk yang lain maka aplikasi ini menyediakan fitur-fitur yang sangat cocok anda.
Pertama kali dijalankan aplikasi ini menampilkan halaman opening, setelah loading akan tampak tampak form isian sebagai berikut :

gambar 1


Secara detai bagian-bagiannya adalah sebagai berikut :
Bagian isian nama kota dan data lintang bujurnya

gambar 2


Nama kota isilah yang benar
Lintang terdiri dejarat, menit , sekon dan keterangan utara maupun selatan.
Lintang hanya bisa diisi dengan 0 -90.
Menit dan sekon hanya bisa diisi dengan  0 – 59
Kemudian pilihan utara/selatan sudah tersedia

Bujur hanya bisa diisi dengan 0 -180
Menit dan sekon hanya bisa diisi dengan  0 – 59
Kemudian pilihan timur/barat sudah tersedia

Bagian isian ketinggian tempat dari permukaan laut:

gambar 3

Jika ingin mengabaikan isilah dengan 0 (nol), jika memang   anda mendapatkan data tersebut isilah sesuai data yang anda punya.

Bagian isian zona waktu:

gambar 4

Zona waktu isilah sesuai pilihan yang tersedia.





Bagian isian tahun, bulan, tanggal dan M / SM

gambar 5

Isilah yang sesuai.

Bagian isian koreksi hari :

gambar 6

Kadang hisab hijriyah urfi kadang berselisih sehari dengan yang berlaku, baik mendahului ataupun terlambat, maka kolom ini untuk menyesuaikan. Tersedia pilihan  -1, 0 dan 1.

Bagian isian interval dan jumlah baris.

gambar 7


Bagian ini untuk mengatur jumlah baris yang akan dibuat, isilah sesuai kebutuhan anda.

Bagian isian jenis jam

gambar 8

Tersedia pilihan jam menengah (seperti WIB) dan jam istiwak setempat.
Bagian tombol-tombol

gambar 9

“YA” untuk mengekskusi
“HAPUS” untuk menghapus data isian mapun yang didisplay di cells.
“EDIT” untuk mengedit beberapa criteria.
“SELESAI” untuk menutup apllikasi.

Bagian fitur tambahan
Jika tombol “EDIT” ditekan maka akan muncul ringkasan criteria dan pilihan sebagai berikut :

gambar 10

Jika pilih “NO” maka akan menutup, jika pilih “YES” maka akan terbuka form isian sekunder sebagai berikut :


gammbar 11

Ada beberapa pilihan yang bisa anda isi untuk diterapkan

Sebagaimana diketahui bahwa perhitungan awal waktu sholat adalah berdasar ketinggian matahari saat itu, sehingga dalam keadaan tertentu syarat ketinggian tersebut tidak terpenuhi, seperti jika yang dimasukkan adalah data lintang untuk daerah-daerah yang mendekati kutub, misalnya kita masukkan data lintang 65 derajat sampai 90 . maka dalam kasus demikian aplikasi ini akan memberikan peringatan seperti berikut :

gambar 12

Kemudian akan ditawarkan pilihan untuk menyesuaikan penyusunan jadwal waktu sholat kota tersebut dengan daerah lain. Jika dipilih “YES” maka akan muncul form isian sekunder lainnya sebagai berikut :

gambar 13

Ada dua pilihan , akan disesuaikan dengan daerah lain dengan berdasarkan nilai lintang secara langsung atau berdasarkan panjang siang/malam . munculnya peringatan tersebut bisa dinonaktifkan pada tombol “EDIT”

Sebagai hasil akhir adalah sebuah jadwal waktu sholat yang sudah dilengkapai dengan informasi arah qiblat maupun jam terjadinya baying-bayang qiblat. Yang bisa dilihat di sheet “JADWAL WAKTU SHOLAT” tampak seperti ini :

gambar 14

Selanjutnya anda bisa mencetaknya seperti biasa.

Demikianlah secara singkat pemakaian apliikasi ini.
Aplikasi ini bebas anda simpan, pakai, maupun  sebarluaskan. kepada para sesepuh dan pakkar mohon ditashih.

 Bagi yang ingin mempelajari, mengembangkan atau sekedar mengambil idenya silakan lihat kodenya, aplikasi ini tidak penyusun proteksi.Namun penyusun mohon maaf jika kodenya mungkin masih sulit dibaca karena aplikasi ini dirancang sambil ditulis dan ditulis sambil dirancang,  masih kurang rapi dan penyusun belum sempat merapikannya. salah satu kekurangan aplikasi ini  adalah penyusun belum sempat mengintegrasikan dengan daftar nama kota, penyusun belum sempat membuatnya. mungkin  di antara pembaca ada yang sudah punya daftar kota lengkap dengan data lintang bujur dan ketinggian, dalam format Ms Excel juga  yang boleh penyussun kopi untuk diintegrasikan dengan aplikasi ini, tentu penyusun akan senang dan berterimakasih sekali.

Untuk perhitungan data mataharinya penyusun mengadopsi algorithma yanga terdapat di

http://stjarnhimlen.se/comp/tutorial.html

koordinat ka’bah 21° 25’ 14” LU  - 39°49’ 41” BT
tinggi isya’ -18°
tinggi subuh -20°
imsak 10 m3nit dari subuh
ihtiyath 2 menit pembulatan
criteria di ataslah yang berlaku setiap kali anda membuka aplikasi ini, setiap perubahan akan terhapus ketika aplikasi ini ditutup.
sedang untuk kode-kode yang lain penyusun ambil dari berbagai sumber yang tersedia di internet.

Penyusun sangat berterimakasih jika anda berkenan memberikan komentar, ide maupun  saran-saran untuk penyempurnaan di waktu mendatang.
penyusun mohon doa restunya dan semoga bermanfaat.

selanjutnya silakan download di
http://www.ziddu.com/download/18668538/ASH_SHOLAH_updated.zip.html





Yogyakarta, 9 Pebruari 2012

Penyusun

albiehamsil@yahoo.com

Jumat, 03 Februari 2012

TIP RINGAN MENCARI HALAMAN JUZ DALAM MUSHAF ALQUR 'AN

Tips ringan mencari halam awal juz.dengan langkah "SATU DUA TIGA"
1. bilangan juz dikurangi dengan 1
2. hasilnya dikalikan dengan 2
3. tambahkan angka 3 dibelakangnya
contoh :
Mencari halaman awal juz 18 langkahnya sbagai berikut :
18 -1 = 17
17 x 2 = 34
34 ditambahkan angka 3 dibelakangnya menjadi 343
maka halaman awal juz 18 adalah 343.

Tips ini berlaku khusus bagi mushaf yang tiap halamnnya terdiri dari 15 baris saja
Selamat mencoba.
Semoga bermanfaat

Sabtu, 28 Januari 2012

FORM VBA EXCEL UNTUK PERHITUNGAN ARAH QIBLAT

Bukalah Ms Excel dan bukalah editor VBA nya, kemudian buatlah form seperti tampak berikut ini :




 kembalilah ke MS Excel
Rename  sheet 1 menjadi  AWWAL dan sheet2 menjadi TSANI
kode form di atas adalah sebagai berikut

Private Sub CMDHT_Click()
Dim iRow As Long
Dim ws As Worksheet
Set ws = Worksheets("TSANI")

'menemukan baris kosong pada database
iRow = ws.Cells(Rows.Count, 1) _
  .End(xlUp).Offset(1, 0).Row

'check untuk sebuah kota
If Trim(Me.TKOTA.Value) = "" Then
  Me.TKOTA.SetFocus
  MsgBox "NAMA KOTANYA GUS"
  Exit Sub
End If

KOTA = Me.TKOTA.Value
'memasukkan dalam variabel
DLIN = Me.TDL.Value
MLIN = Me.TML.Value
SLIN = Me.TSL.Value

'mengubah menjadi desimal
lintang = Abs(DLIN) + MLIN / 60 + SLIN / 3600
If DLIN < 0 Then
lintang = lintang * -1
lintang = lintang
End If

'mengubah menjadi DMS
LINTANGDMS = DMS(lintang)

'memasukkan dalam variabel
DBU = Me.TDB.Value
MBU = Me.TMB.Value
SBU = Me.TSB.Value

'mengubah menjadi desimal
bujur = Abs(DBU) + MBU / 60 + SBU / 3600
If DBU < 0 Then
bujur = bujur * -1
bujur = bujur
End If

'mengubah menjadi DMS
BUJURDMS = DMS(bujur)

'perhitungan arah qiblat
Pi = Application.Pi()
r = 180 / Pi

lintangmakkah = 21 + 25 / 60 + 14 / 3600
bujurmakkah = 39 + 49 / 60 + 41 / 3600




'PENGUJUIAN POSISI I
If bujur = bujurmakkah Then
        Select Case lintang
        Case Is = lintangmakkah
        QIBLATK = "KA'BAH SENDIRI"
        ket1 = ""
        ket2 = ""
       
        Case Is > lintangmakkah
        QIBLATK = "SELATAN"
        ket1 = ""
        ket2 = ""

        Case Else
        QIBLATK = "UTARA"
        ket1 = ""
        ket2 = ""

        End Select
       
   
ElseIf bujur = bujurmakkah + 180 - 360 Then

        Select Case lintang
        Case Is = -lintangmakkah
        QIBLATK = "SEGALA ARAH"
        ket1 = ""
        ket2 = ""

        Case Is < -lintangmakkah
        QIBLATK = "SELATAN"
        ket1 = ""
        ket2 = ""

        Case Else
        QIBLATK = "UTARA"
        ket1 = ""
        ket2 = ""

        End Select
Else
selisihbujur = bujurmakkah - bujur
jarakr = Application.Acos(Cos(lintang / r) * Cos(lintangmakkah / r) * Cos(selisihbujur / r) + Sin(lintang / r) * Sin(lintangmakkah / r))
jarak = jarakr * r

qiblatr = Application.Asin((Sin(lintangmakkah / r) - Cos(jarakr) * Sin(lintang / r)) / (Cos(lintang / r) * Sin(jarakr)))
QIBLATDES = qiblatr * r

QIBLATK = DMS(QIBLATDES)
End If


'PENGUJIAN POSISI II
'TEPAT ARAH BARAT/TIMUR

BTr = Atn(Tan(lintangmakkah / r) / Cos(selisihbujur / r))
BT = BTr * r

If bujur > bujurmakkah Then
ket1 = "BARAT - "
Else
ket1 = "TIMUR - "
End If

If lintang > BT Then
ket2 = "SELATAN"
Else
ket2 = "UTARA"
End If



URUT = iRow - 2

'copy data ke database
ws.Cells(iRow, 1).Value = URUT
ws.Cells(iRow, 2).Value = KOTA
ws.Cells(iRow, 3).Value = LINTANGDMS
ws.Cells(iRow, 4).Value = BUJURDMS
ws.Cells(iRow, 5).Value = QIBLATK & " " & ket1 & ket2


MsgBox "QIBLAT " & KOTA & " ADALAH :" & QIBLATK & " " & ket1 & ket2
Sheets("TSANI").Select

'clear data
Me.TKOTA.Value = ""
Me.TDL.Value = ""
Me.TML.Value = ""
Me.TSL.Value = ""
Me.TDB.Value = ""
Me.TMB.Value = ""
Me.TSB.Value = ""
Me.TKOTA.SetFocus

End Sub

Private Sub CMDTTP_Click()
   Sheets("AWWAL").Select
   MsgBox " Alhamdulillah"
     Unload Me
End Sub

Private Sub UserForm_QueryClose(Cancel As Integer, _
  CloseMode As Integer)
  If CloseMode = vbFormControlMenu Then
    Cancel = True
    MsgBox "MAKE TOMBOL AJA YA GUS!"
  End If
End Sub

'fungsi dms
Function DMS(y)
x = Abs(y)
derajat = Int(x)
If y < 0 Then
derajat = derajat * -1
derajat = derajat
End If

menit = Int(60 * x) Mod 60

sekonasal = 3600 * x
sekonutuh = Int(sekonasal)
sekonpecah = Round((sekonasal - sekonutuh), 2)
sekon = sekonutuh Mod 60 + sekonpecah


DMS = derajat & Chr(176) & " " & menit & Chr(39) & " " & sekon & Chr(34)

End Function

kemudian kembali ke MS Excel buatlah tombol commaand Button untuk mrmunculkan form di atas dengan kode sebagai berikut :

Private Sub CMDMULAI_Click()
MsgBox "bismillaahirrohmanirrohiim"
UserForm1.Show
End Sub

untuk file nya silakan download di :

FUNGSI VBA EXCEL UNTUK KONVERSI TANGGAL


Berikut beberapa kode vba Excel untuk konversi tanggal Miladiyah ke Hijriyah , Jawi Islam ataupun sebaliknya.


Fungsi konversi tanggal miladiyah ke Julian Day

Function milaju(x, y, z)
Dim tahun, bul1, bul, tgl
Dim satu, tah, jjd, gjd, jul

If x = 0 Then MsgBox "Tidak ada Tahun Nol Gus "

If x < 0 Then
tahun = x + 1
Else
tahun = x
End If

bul1 = y
tgl = z
satu = Int((14 - bul1) / 12)
tah = tahun + 4800 - satu
bul = bul1 + 12 * satu - 3

jjd = tgl + Int((153 * bul + 2) / 5) + tah * 365 + Int(tah / 4) - 32083

gjd = tgl + Int((153 * bul + 2) / 5) + tah * 365 + Int(tah / 4) - Int(tah / 100) + Int(tah / 400) - 32045


If jjd > 2299159.5 Then
jul = gjd
Else
jul = jjd
End If

milaju = jul

End Function


Fungsi konversi tanggal Hijriyah urfi ke Julian Day


Function hijiju(x, y, z)
Dim tah, tahun, bul, tgl, hari

If x = 0 Then MsgBox "Tidak ada Tahun Nol Gus "

If x < 0 Then
tahun = x + 1
Else
tahun = x
End If

tah = tahun + 5498
bul = y
tgl = z
hari = Int((354 + 11 / 30) * tah - 353.85) + Int(29.5 * bul - 29) + tgl
hijiju = hari + 131

End Function


Fungsi konversi tanggal Jawi Islam ke Julian Day

Function jawijul(x, y, z)
Dim hari, jum, kor, t

If x >= 1627 And x <= 1674 Then
t = x + 5
hari = Int(t * 354.375 + 0.3) + Int(29.5 * y - 29) + z
kor = Int(t / 120)
jum = hari - kor + 1764877


Else
t = x + 53

hari = Int(t * 354.375 + 0.3) + Int(29.5 * y - 29) + z
kor = Int(t / 120)
jum = hari - kor + 1747867
End If

jawijul = jum


End Function


Fungsi konversi Julian Day ke tanggal Miladiyah

Function jumila(x)

Dim ctr0, ctr1, ctr2, ctr3, ctr4, ctr5, ctr6
Dim tanggal, bulan, tahun1, tahun, bln
Dim hari, pasaran, hr, ps

ctr0 = x
ctr1 = x + 32044
If ctr0 > 2299159.5 Then
ctr2 = Int((4 * ctr1 + 3) / 146097)
Else
ctr2 = 0
End If

If ctr0 > 2299159.5 Then
ctr3 = ctr1 - Int((ctr2 * 146097) / 4)
Else
ctr3 = ctr0 + 32082
End If

ctr4 = Int((4 * ctr3 + 3) / 1461)
ctr5 = ctr3 - Int((1461 * ctr4) / 4)
ctr6 = Int((5 * ctr5 + 2) / 153)

tanggal = ctr5 - Int((153 * ctr6 + 2) / 5) + 1
bulan = ctr6 + 3 - 12 * Int(ctr6 / 10)
tahun1 = ctr2 * 100 + ctr4 - 4800 + Int(ctr6 / 10)
If tahun1 < 1 Then
tahun = tahun1 - 1
Else
tahun = tahun1
End If

Select Case bulan
Case Is = 1
bln = "Januari"
Case Is = 2
bln = "Pebruari"
Case Is = 3
bln = "Maret"
Case Is = 4
bln = "April"
Case Is = 5
bln = "Mei"
Case Is = 6
bln = "Juni"
Case Is = 7
bln = "Juli"
Case Is = 8
bln = "Agustus"
Case Is = 9
bln = "September"
Case Is = 10
bln = "Oktober"
Case Is = 11
bln = "Nopember"
Case Is = 12
bln = "Desember"
End Select

hr = (ctr0 + 2) Mod 7

ps = (ctr0 + 1) Mod 5

Select Case hr
Case Is = 1
hari = "Ahad"
Case Is = 2
hari = "Senin"
Case Is = 3
hari = "Selasa"
Case Is = 4
hari = "Rabu"
Case Is = 5
hari = "Kamis"
Case Is = 6
hari = "Jum'at"
Case Is = 0
hari = "Sabtu"
End Select


Select Case ps
Case Is = 1
pasaran = "Legi"
Case Is = 2
pasaran = "Pahing"
Case Is = 3
pasaran = "Pon"
Case Is = 4
pasaran = "Wage"
Case Is = 0
pasaran = "Kliwon"
End Select


jumila = hari & " " & pasaran & " " & tanggal & " " & bln & " " & tahun

End Function



Fungsi konversi Julian Day ke tanggal Hijri Urfi

Function juhiji(x)
Dim tahun, sisa, s1, bulan, tanggal, bln, hr, ps, hari7, hari, pasaran

hari = x - 131

tahun = Int(hari * 3 / 1063.1) + 1
s1 = Int(tahun * 1063.1 / 3 - 353.85)
sisa = hari - s1

If sisa = 0 Then
tahun = Int(hari * 3 / 1063.1)
s1 = Int(tahun * 1063.1 / 3 - 353.85)
sisa = hari - s1

Else
tahun = tahun
sisa = sisa
End If
tahun = tahun
sisa = sisa

bulan = Int(sisa / 29.5 + 0.97)
If bulan > 12 Then bulan = 12

tanggal = sisa - Int(29.5 * bulan - 29)
tahun = tahun - 5498



If tahun < 1 Then
tahun = tahun - 1
Else
tahun = tahun
End If


Select Case bulan
Case Is = 1
bln = "Muharrom"
Case Is = 2
bln = "Shofar"
Case Is = 3
bln = "Robi'ul Awwal"
Case Is = 4
bln = "Robi'uts Tsani"
Case Is = 5
bln = "Jumadil Ula"
Case Is = 6
bln = "Jumadits Tsani"
Case Is = 7
bln = "Rojab"
Case Is = 8
bln = "Sya'ban"
Case Is = 9
bln = "Romadlon"
Case Is = 10
bln = "Syawwal"
Case Is = 11
bln = "Dzul Qo'dah"
Case Is = 12
bln = "Dzul Hijjah"
End Select

hr = (x + 2) Mod 7

ps = (x + 1) Mod 5

Select Case hr
Case Is = 1
hari7 = "Ahad"
Case Is = 2
hari7 = "Senin"
Case Is = 3
hari7 = "Selasa"
Case Is = 4
hari7 = "Rabu"
Case Is = 5
hari7 = "Kamis"
Case Is = 6
hari7 = "Jum'at"
Case Is = 0
hari7 = "Sabtu"
End Select


Select Case ps
Case Is = 1
pasaran = "Legi"
Case Is = 2
pasaran = "Pahing"
Case Is = 3
pasaran = "Pon"
Case Is = 4
pasaran = "Wage"
Case Is = 0
pasaran = "Kliwon"
End Select

juhiji = hari7 & " " & pasaran & " " & tanggal & " " & bln & " " & tahun

End Function


Fungsi konversi Julian Day ke tanggal Jawi Islam


Function juljawi(y)
Dim t, h, s, x, t1, h1, tahun, bulan, bln, tanggal
Dim sisa, hri, hari, hari7, ps, pasaran
Dim huruf, huruf1, huruf2, huruf3, huruf4, huruf5, huruf6

If y >= 2343204 And y <= 2360213 Then
x = y - 1747867
x = x - 7 * 2835

h = x + Int(x / 42524)
t = Int((354 + h) / 354.375) - 1

h1 = Int((t) * 354.375 + 0.3)

tahun = t + 3
sisa = h - h1
huruf2 = Int((tahun + 55) / 120) + 17

Else
x = y - 1747867
h = x + Int(x / 42524)
t = Int((354 + h) / 354.375) - 1

h1 = Int((t) * 354.375 + 0.3)

tahun = t - 53
sisa = h - h1
huruf2 = Int((tahun + 53) / 120) + 18

End If


If tahun < 1 Then
tahun = tahun - 1
Else
tahun = tahun
End If

bulan = Int(sisa / 29.5 + 0.97)
If bulan > 12 Then bulan = 12

tanggal = sisa - Int(29.5 * bulan - 29)




Select Case bulan
Case Is = 1
bln = "Sura"
Case Is = 2
bln = "Sapar"
Case Is = 3
bln = "Mulud"
Case Is = 4
bln = "Bakda Mulud"
Case Is = 5
bln = "Jumadilawal"
Case Is = 6
bln = "Jumadilakir"
Case Is = 7
bln = "Rejeb"
Case Is = 8
bln = "Ruwah"
Case Is = 9
bln = "Pasa"
Case Is = 10
bln = "Syawal"
Case Is = 11
bln = "Dulkangidah"
Case Is = 12
bln = "Besar"
End Select

hri = (x + 4) Mod 7

ps = (x + 3) Mod 5

Select Case hri
Case Is = 1
hari7 = "Ahad"
Case Is = 2
hari7 = "Senen"
Case Is = 3
hari7 = "Selasa"
Case Is = 4
hari7 = "Rebo"
Case Is = 5
hari7 = "Kemis"
Case Is = 6
hari7 = "Jumungah"
Case Is = 0
hari7 = "Setu"
End Select


Select Case ps
Case Is = 1
pasaran = "Legi"
Case Is = 2
pasaran = "Pahing"
Case Is = 3
pasaran = "Pon"
Case Is = 4
pasaran = "Wage"
Case Is = 0
pasaran = "Kliwon"
End Select

huruf = tahun Mod 8
Select Case huruf
Case Is = 1
huruf1 = "Wawu"
Case Is = 2
huruf1 = "Jim Akir"
Case Is = 3
huruf1 = "Alip"
Case Is = 4
huruf1 = "Ehe"
Case Is = 5
huruf1 = "Jim Awal"
Case Is = 6
huruf1 = "Ze"
Case Is = 7
huruf1 = "Dal"
Case Is = 0
huruf1 = "Be"
End Select

huruf3 = huruf2 Mod 7
huruf4 = huruf2 Mod 5

Select Case huruf3
Case Is = 1
huruf5 = "Angad"
Case Is = 2
huruf5 = "Atu"
Case Is = 3
huruf5 = "Angah"
Case Is = 4
huruf5 = "Amis"
Case Is = 5
huruf5 = "Abo"
Case Is = 6
huruf5 = "Asa"
Case Is = 0
huruf5 = "Anen"
End Select

Select Case huruf4
Case Is = 1
huruf6 = "gi"
Case Is = 2
huruf6 = "won"
Case Is = 3
huruf6 = "ge"
Case Is = 4
huruf6 = "pon"
Case Is = 0
huruf6 = "ing:"
End Select

juljawi = hari7 & " " & pasaran & " " & tanggal & " " & bln & " " & tahun & " " & huruf1 & " " & huruf5 & huruf6

End Function


Contoh file silakan download di :





Senin, 16 Januari 2012

JALAN KERBAU

Alkisah ada seorang petani.
Hidup di desa pinngir hutan lereng sebuah gunung.
Pak tani mempunyai seekor anak kerbau.
Tiap hari digiring ke sungai untuk dimandikan.

Awalnya yang dilewati adalah semak-semak.
Rumput-rumput terinjak kaki sang kerbau.
kemudian jadi jalan setapak.

Jalan itu makin lebar.
Tetangga pak tani ikut melewatinya.

Beberapa tahun kemudian
Warga desa bekerja giat.
Desanya makin maju.

Datang pemodal dari kota.
Dibawa oleh Pak Kepala Desa.
Desa itu dibangun, jalan pinggir desa juga dibangun.
Jalan itu sudah bukan jalan setapak lagi.
Di atas kalipun sudah ada jembatan.
Makin banyak orang yang lewat.

Tetangga Pak tani pergi ke kantor lewat jalan itu.
Anak-anak sekolah lewat jalan itu.
Pedagang keliling, tukan rentenir juga lewat jalan itu,
Tahun kemarin bapak bupati juga lewat jalan itu.
Semua orang lewat jalan itu

Kerbau pak tani sudah jarang lewat jalan itu.
Kerbau pak tani makin tua.
Sudah tidak membajak sawah lagi.
Kerbau disembelih. Untuk upacara syukuran desa.
Sekaligus meresmikan nama jalan itu.
“Jalan Kerbau” nama jalan itu, untuk mengenang kerbaunya.
Itu usul pak tani sesepuh desa itu yang paling sepuh.
Pak lurah setuju, tetua-tetua desa setuju. Pak RT setuju.
Pak Camat setuju, pak Bupatipun setuju.
Seluruh warga ikut bangga.
Jalan itu makin terkenal hingga luar desa bahkan luar kota.

Ekonomi warga makin maju.
Itulah berkah jalan itu.
Seluruh warga percaya akan hal itu.
Warga desa akhirnya mengkeramatkan jalan itu.
Pak RT mengkeramatkan jaln itu.
Tetua desa, Pak lurah Pak Camat Pak bupati mengkeramatkan jalan itu.

Tiap tahun didakan uapcara sesaji
Warga desa membuat sesaji.
Membawa dupa dan bunga.
Pak RT membawa sesaji
Pak Lurah membawa sesaji
Pak camat membawa sesaji
Pak Bupati membawa sesaji
Para pelajar membawa sesaji
Mahasiswa membawa sesaji
Tokoh agama membawa sesaji
Para pengusaha membawa sesaji
Semua orang membawa sesaji.
Pak Tani memimpin upacara
Dia tidak membawa sesaji.
Pak tani bercerita pada cucunya.
Menceritakan jalan kerbaunya.
“Semua orang ternyata dungu.
Mereka tak pernah membuat jalan sendiri.
Walau kini kerbau kita sudah pernah lewat.
Tetap saja jalan itu itu jalan kerbau”
 Yogyakarta, 12 November 2010.

Selasa, 27 September 2011

Lokakarya Kriteria Awal Bulan: Perwakilan Ormas Islam Bersepakat

Alhamdulillah, langkah maju dicapai dalam “Lokakarya Mencari Kriteria Format Awal Bulan di Indonesia” yang diselenggarakan oleh Kementerian  Agama RI di Hotel USSU, Cisarua, Bogor, 19 – 21 September 2011.  Lokakarya dihadiri sekitar 40 orang hali hisab-rukyat dari ormas-ormas Islam, perorangan, dan dari instansi terkait berhasil menyepakati penggunaan kriteria imkan rukyat. Direncanakan sesudah lokakarya yang bersifat teknis ini akan dilanjutkan dengan musyawarah bersama para ulama, lalu disusul dengan musyawarah nasional ormas-ormas Islam. Tujuannya satu,  mempersatukan ummat Islam dalam penetapan kalender hijriyah, khususnya untuk bulan-bulan Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah yang terkait dengan ibadah
Sebagai pembicara pertama, saya memaparkan presentasi “Menuju Kesepakatan Kriteria Awal Bulan Hijriyah”.  Lalu disusul pembicara dari wakil-wakil ormas Islam dan diskusi. Karena masalah utama adalah masih digunakannya kriteria hisab wujudul hilal, maka pemaparan saya juga memfokuskan pada perbandingan hisab wujudul hilal dan hisab imkan rukyat serta rinciannya sampai implementasinya pada membuatan kelender hijriyah global. Perlu diingat, hisab imkan rukyat bukan hanya kriteria ketinggian 2 derajat, tetapi banyak definisi lainnya. Tetapi, kita bisa memilih kriteria yang disepakati, dengan berbagai pertimbangan (bukan sekadar pertimbangan astronomis, tetapi juga aspek kemudahan aplikasinya oleh semua ormas Islam). Inilah perbandingan hisab wujudul hilal dan hisab imkan rukyat:

Wujudul Hilal Imkan Rukyat
Definisi Piringan atas bulan masih ada di atas ufuk saat maghrib, setelah terjadi ijtimak Bulan berada pada ketinggian tertentu dan syarat-syarat lainnya yang memungkinkan hilal dapat dirukyat
Dalil QS 36:40, tanpa hadits yang eksplisit QS. 2:185, 9:36, 10:5, 36:39, 2:189Dan banyak hadits
Model Fisis Sederhana,  mengabaikan faktor cahaya senja Lebih maju dengan memperhitungkan cahaya senja
Sifat Statis, cepat usang (obsolete) Dinamis, berkembang sesuai temuan baru
Akseptibilitas Kurang diterima, karena mengabaikan rukyat Mudah diterima karena merupakan titik temu hisab dan rukyat
Dampak Selalu terjadi perbedaan saat posisi bulan rendah Tidak terjadi perbedaan, karena hisab dan rukyat diselaraskan
Trend Internasional Mulai ditinggalkan, kecuali Ummul Quro Banyak digunakan dalam konsep kalender  global (e.g. IICP, UHC)
Potensi untuk kalender global Lemah, karena sudah usang Kuat, aplikastif untuk 2 zona, regional, wilayatul hukmi
Dari pemaparan dan diskusi peserta lokakarya lalu dirumuskan keputusan lokakarya. Sidang perumusan dipimpin oleh Prof. Dr. Susiknan (wakil dari Muhammadiyah) dan Dr. Izzuddin (Wakil dari Nahdlatul Ulama). Ada langkah maju dari lokakarya ini. Berbeda dengan pertemuan serupa pada 1998 (saat itu Muhammadiyah tidak bersepakat), walau diawali dengan diskusi yang cukup panas namun tetap dalam suasana ukhuwah akhirnya para lokakarya saat ini semua peserta menyepakati kriteria imkan rukyat.
Berikut ini isi kesepakatan itu:
Pertama              :
1. Memantapkan implementasi keputusan USSU Tahun 1998 dengan perubahan sebagai berikut:
a. Kriteria yang digunakan dalam penyusunan Kalender Hijriyah Indonesia adalah posisi hilal yang menurut hisab hakiki bit-tahqiq memenuhi kriteria imkan rukyat.
b. Kriteria imkan rukyat yang dimaksud pada huruf a di atas adalah kriteria “Dua-Tiga/Delapan”, yaitu: pertama, tinggi hilal minimal 2 derajat dan, kedua, jarak sudut matahari dan bulan minimal 3 derajat atau umur bulan minimal 8 jam.
c. Khusus untuk penetapan awal bulan Ramadan, Syawal dan Zulhijah digunakan kriteria sebagaimana huruf a dan didukung bukti empirik terlihatnya hilal.
d. Istilah-istilah teknis hisab-rukyat dan definisi operasionalnya terkait penyusunan Kalender Hijriyah Indonesia adalah sebagaimana terlampir.
2. Penetapan awal bulan Ramadan, Syawal dan Zulhijah dilakukan dalam sidang Isbat yang dipimpin oleh Menteri Agama RI.
3. Untuk mewujudkan kesatuan Kalender Hijriyah Indonesia perlu dilakukan langkah-langkah konkrit sebagai berikut:
a. Membentuk Tim Kerja Penyatuan Kalender Hijriyah Indonesia.
b. Mengkaji berbagai literatur yang berkembang dengan melibatkan para ahli yang terkait.
c. Melakukan kajian obsevasi hilal secara kontinyu.
d. Melakukan penyusunan naskah akademik dengan pendekatan interdisipliner.
e. Menyelenggarakan Muktamar Kalender Hijriyah Indonesia.
Kedua                :
Mengusulkan kepada Menteri Agama untuk membicarakan secara intensif keputusan lokakarya ini dengan pimpinan ormas tingkat pusat dan MUI Pusat.
Ketiga                :
Mengamanatkan kepada para peserta untuk menjadikan hasil-hasil Keputusan Lokakarya Mencari Kriteria Format Awal Bulan di Indonesia Tahun 2011 sebagai pedoman bersama dalam penyusunan Kalender Hijriyah Indonesia.
sumber :http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/09/26/lokakarya-kriteria-awal-bulan-perwakilan-ormas-islam-bersepakat/

Senin, 26 September 2011

BAYANG-BAYANG MATAHARI YANG MENGARAH KE QIBLAT



Keterangan gambar :

K = kutub Utara
J= posisi Matahari 21 Juni
K - J = (90 - deklinasi Matahari 21 Juni)
U - J = nilai Deklinasi Matahri 21 Juni
Y = posisi Yogyakarta
0 - Y = nilai Lintang Yogyakarta
K - Y = (90 - Lintang Yogyakarta)
D = posisi Matahari 22 Desember
S - D = nilai deklinasi Matahari 22 desember
K - D = (90 - deklinasi Matahari 22 Desember)
Y - J = (90 - tinggi Matahari 21 Juni)
Y - D = (90 - tinggi Matahari 22 desember)
gari/busur hijau = garis katulistiwa
B - T = potongan dari lingkaran arah Barat/Timur
sudut BYP =  sudut Arah Qiblat Yogyakarta
sudut DYT= sama besar sengan sudut qiblat
sudut 0YP = azimut Matahari 21 Juni = 90 - sudut qiblat
sudut 0YD = azimut Matahari 22 desember = 90 + sudut qiblat
P = titik potong lingkaran tinggi Matahari yang membentuk sudut qiblat dengan garis katulistiwa
sudut UPJ = sama besar dengan sudut YP0
t1 = sudut waktu Matahari 21 Juni saat bertepatan arah qiblat, sama dengan panjang busut 0U = P0 + PU
t2 = sudut waktu Matahri 22 Desember saat bertepatan arah qiblat, sama dengan panjang busur 0S = PS - P0


Kapan Posisi Matahari Dalam Peredaran Hariannya  membentuk Bayangan Yang Mengarah Ke  Qiblat ?

Dulu ketika mempelajari ilmu falak, salah satu materi yang berkesan bagi saya adalah materi tentang  Kapan Posisi Matahari Dalam Peredaran Hariannya  membentuk Bayangan Yang Mengarah Ke  Qiblat ?

Hal ini menarik karena dengan mengetahui kapan terjadi bayangan matahari yang mengarah ke kiblat, kita bisa mengukur arah qiblat dari suatu tempat dengan menegakkan  tongkat lurus di atas permukaan tanah yang rata, kemudian pada saat jam dan menit yang sudah ditentukan sesuai harinya, maka saat itu dapat diketahui arah qiblat yang tepat dari tempat tersebut, tentu dengan syarat saat itu matahari bersinar cerah.
Sehingga dalam prakteknya alat yang perlu dipersiapkan hanyalah sebatang tongkat dan sebuah jam atau alat penunjuk waktu lainnya yang sudah disesuaikan dengan jam setandar, tentu saja sebelumnya sudah melakukan perhitungan terlebih dahulu.

Gambar di atas adalah untuk mempermudah melukiskan pokok permasalahn .dan pemecahannya. Misalnya kita akan mencari jam berapa matahari pada tanggal 21 juni 2011 dan 22 Desember 2011 membentuk bayangan arah qiblat ?

Data yang harus dipersiapkan adalah :
  1. Koordinat kota Yogyakarta
    1. lintang  : -7 ° 48’ LS
    2. bujur : 110° 21’ BT
(data lintang suatu kota bisa kita dapatkan dari peta/atlas, atau dari daftar, internet ataupun alat GPS)
  1. Arah qiblat Yogyakarta : 24° 42’ 55,67” dari titik Barat ke Utara.
(mengenai arah qiblat ada cara perhitungannnya tersendiri, di sisni tidak dibahas).
  1. Data Matahari
    1. 21 Juni 2011.
·        Deklinasi : 23° 26’ 11”  (jan 12 : 00 : 00 WIB )
·        Perata waktu = 1m 15d

    1. 22 Desemberi 2011.
·        Deklinasi : - 23° 26’ 13”  (jan 12 : 00 : 00 WIB )
·        Perata waktu = 1m 15d
(data Matahari bisa didapatkan dari buku/program ephemeris  atau bisa juga dari internet. dalam contoh ini data diambil dari Moon calculator versi 6 oleh Dr. Monzur Ahmed).


Perhitungan untuk tanggal 21 Juni 2011

Dari gambar jika mendapatkan:

J = posisi Matahari pada tanggal 21 Juni
UJ = besaran deklinasi matahari = 23° 26’ 11” 
Y = adalah posisi Yogyakarta
0Y = besaran Lintangnya = -7 ° 48’
Sudut BYP (q) = sudut qiblat = 24° 42’ 55,67”

Jika titik K, J dan Y dihubungkan maka terbentuk  sebuah segitiga bola KJY dengan unsur-unsur yang dapat diketahui antara lain :
KJ = 90 – deklinasi = 90 - SJ = 90 - 23° 26’ 11”  = 66° 33’ 39” 
KY = 90 – lintang = 90 – 0Y = 90 – (-7 ° 48’) = 97 ° 48’
Sudut JYK = azimut matahari (A1) = 90 – qiblat = 90 – BYP (q) = 90 - 24° 42’ 55,67” = 65° 17’ 04,33” karena dihitung berlawanan dengan arah jarum jam maka diberi tanda negatif (- 65° 17’ 04,33”).

Yang dicari adalah besar sutut YKJ (t1). Ini adalah sudut waktu yang terbentuk di kutub K.
t1 = ?

dari ketiga unsur segitiga bola KJY yang sudah diketahui di atas ternyata belum cukup untuk melakukan perhitungan berapa besar sudut t1 tersebut secara langsung, baik dengan aturan sinus maupun aturan cosinus. Namun bukan berarti tidak dapat diselesaikan. Maka inilah yang menarik !

maka kemudian perlu diperhatikan bahwa besar sudut t1 adalah sama besar dengan panjang busur 0U yang dihitung di sepanjang katulistiwa/ekuator.
Untuk menghitung berapa panjang 0U secara langsung dari segitiga KU0 juga tidak mungkin.

Untuk menyelesaikan permasalah di atas maka perlu pengandaian sebagai berikut, lingkaran tinggi matahari (garis kuning) yang sedang membentuk bayangan kiblat berpotongan dengan busur waktu yang berhimpit dengan ekuator di sebuah titik misalnya titik P. maka kita mendapatkan sebuah segitiga bola siku-siku 0PY dengan sudut siku-siku di titik 0.  dengan unsur-unsur yang diketahui besarnya panjang 0Y = -7 ° 48’, sudut A1= (- 65° 17’ 04,33”), sebagaimana di atas selain sudut siku-sikunya.
Selain segitiga 0PY kita kemudian juga mendapatkan segitiga siku-siku laiannya yaitu segitiga JUP dengan siku-siku di titik U. dengan unsur yang dikethaui yaitu sisi UJ = deklinanasi matahari = 23° 26’ 11” 

Dalam segitiga bola siku-siku berlaku aturan sebagi berikut :
a)      yang diperhitungkan adalah lima unsur saja yaitu dua sisi yang membentuk sudut siku-suku, sisi miring dan dua sudut yang mengapit sisi miring tersebut. Sementara sudut siku-sikunya tidak diperhitungkan.

Maka  dalam contoh  segitiga 0PY di atas maka kelima unsur tersebut adalah sisi 0Y, sisi P0, sisi miring PY, sudut A1 dan sudut YP0,

Sementara dalam segitiga JUP unsur-unsurnya sisi JU, sisi UP sisi miring JP , sudut UJP dan sudut JPU yang besarnya sama dengan sudut YP0

b)     selain dua sisi pembentuk siku-siku maka nilai yang dihitung adalah hasil pengurangan dari 90 maka :

kelima unsur dari segitiga 0PY adalah  menjadi sisi 0Y, sisi P0, (90- sisi PY), (90- sudut A1) dan (90- sudut YP0).
 Sementara dari segitiga JUP unsur-unsurnya sisi JU, sisi UP, (90 - sisi miring JP ), (90 - sudut UJP ) dan (90 - sudut JPU)  yang besarnya sama dengan (90 - sudut YP0)

c)      bila dua dari lima unsur segitiga bola  tersebut  diketahui maka ketiga unsur yang lain juga dapat diketahui dengan  dua aturan sebagi berikut.:

1.      sinus suatu unsur adalah hasil kali tangen dua unsur yang mengapitnya.
2.      Sinus suatu unsur adalah hasil kali cosinus dua unsur yang berhadapan.


Dari aturan segitiga bola siku-siku di atas maka kita dapat menghitung berapa panjang P0, kemudian mencari berapa panjang PU kemudian menjumlahkan keduanya sehingga menjadi panjang 0U yang nilainya sama dengan t1 yang dicari.

Menghitung Panjang busur P0

Dalam segitiga 0PY unsur yang diketahui
A1= (- 65° 17’ 04,33”)
0Y =  (-7 ° 48’)

P0 = ?

Kita gunakan aturan  : sinus suatu unsur adalah hasil kali tangen dua unsur yang mengapitnya. Maka :
Sin 0Y = tan (90- A1 ) x tan P0
tan P0 = sin 0Y/ tan (90 -A1)
tan P0 = sin (-7 ° 48’) / tan (90 - 65° 17’ 04,33”)
tan P0 = sin (-7 ° 48’) / tan 24° 42’ 55,67”
tan P0 = -0,1357155724343044 / 0,4602756439799894
tan P0 = - 0,2948571670244725
P0 = - 16,42853037860237
P0 = ( - 16° 25’ 42,71”)



Menghitung Panjang busur PU

Dalam segitiga JUP unsur yang diketahui adalah UJ = deklinasi Matahari = 23° 26’ 11”  . untuk bisa menghitung panjang PU maka kita perlu satu unsur lagi yaitu sudut UPJ. Sudut UPJ adalah sama besar dengan sudut 0PY,
Untuk mengetahui berapa besar sudut 0PY kita juga bisa menggunakan  aturan sinus suatu unsur adalah hasil kali tangen dua unsur yang mengapitnya. Maka :
Sin P0 = tan 0Y x  tan (90 – sudut 0PY), maka
Tan (90 – sudut 0PY) = sin P0 / tan 0Y
Sehingga
Tan (90 – sudut UPJ) = sin P0/ tan 0Y
Sampai di sini kta bisa menghitung panjang busur PU
Sin PU = tan  UJ x tan (90 – sudut UPJ)
Sin PU = tan UJ x sin P0/ tan 0Y
Sin PU = tan 23° 26’ 11” x sin (-16° 25’ 42,71”) / tan (-7 ° 48’)
Sin PU = 0,4334928872343408 x (-0,2828191142577135) / ( -0,1369829606388288)
Sin PU = 0,8950023698778437
PU= 63,5087342045524910
PU = 63° 30’ 31,44”

Sampai di sini kita sudah mendapatkan panjang busur P0 sebesar ( - 16° 25’ 42,71”) dan panjang busur PU = 63° 30’ 31,44”

Mengapa ada perbedaan tanda antara P0 dan PU?

P0 bernilai negatif karena dihitung dari titik P ke kanan (Timur) berlawanan dengan arah peredaran Matahari harian yang dari Timur ke Barat.
Sedang PU dihitung dari titik P ke kiri (Barat) searah dengan peredaran Matahari harian tsb.

Maka untuk mendapatkan panjang busur 0U adalah dengan mengurangkan P0 dari PU,
0U = PU – P0
0U = 63° 30’ 31,44” - ( - 16° 25’ 42,71”)
OU = 63° 30’ 31,44” + 16° 25’ 42,71”
0U = 79° 56’ 14,15”
Inilah sudut waktu t1 =79° 56’ 14,15”
Untuk menjadikan jam maka sudut waktu dibagi 15 :
79° 56’ 14,15” / 15 = 5 : 19 :44,94
Dibulatkan detiknya menjadi jam 5 :19 :45 sore
Hasil yang di dapat masih dalam bentuk jam istiwak setempat sesuai bujur Yogyakarta 110° 21’ BT.
Untuk mengubah menjadi jam WIB maka dikurangi selisih bujur Yogyakarta dengan bujur WIB (105°) karena Bujur Yogyakarta lebih besar , dan ditambah perata waktu.
Selisih bujur = 110° 21’ - 105° = 5° 21’ dijadikan jam dengan dibagi 15
5° 21’ /15 = 0j 21m 24d
Perata waktu hari itu = 1m 15d
Sehingga
WIB = 5 : 19 : 45 -  0 : 21 : 24 + 0 : 1 : 15
WIB = 4 : 59 :36 sore  atau 16 : 59 :36

Sampai di sini bisa disimpulkan bahwa pa tanggal 21 Juni 2011 Matahari berada di arah qiblat Yogyakarta pada jam 16 : 59 : 36 WIB.

Namun bila menghendaki hasil yang lebih presisi dalam detiknya maka perhitungan busur PU diulang lagi dengan nilai deklinasi Matahari pada jam yang didapatkan, yaitu jam 16 : 59 : 36 WIB, karena perhitunga yang terdahulu adalah menggunakan nilai deklinasi jam 12 : 00 : 00 sebagai ancar-ancar.
Perhitungan untuk tanggal 22 Desember 2011

Untuk kasus posisi Matahari 22 Desember yang kita cari adalah besar sudut t2 yang nilainya sama besar dengan panjang busur 0S.
Di sini kita juga mendaptkan dua buah segitiga bola siku-siku yaitu segitiga 0PY yang sudah kita  hitung di atas dan segitiga SPD yang siku-siku di titik S

Busur 0S adalah bagian dari busur PS dimana
PS = P0 + 0S, sehingga
0S = PS – P0
Panjang P0 sudah diketahui dari perhitungan di atas yaitu ( - 16° 25’ 42,71”)
Maka untuk mengetahui 0S kita perlu menghitung berada panjang busur PS,

Perhitungan busur PS

Yang diketahui
SD = deklinasi Matahari =(- 23° 26’ 13” )
Sudut SPD = 0PY
Tan (90 – sudut 0PY) = sin P0 / tan 0Y
Tan (90 – sudut SPD) = sin P0/ tan 0Y

Sin PS = tan  SD x tan (90 – sudut SPD)
Sin PS = tan  SD x sin P0 / tan 0Y
Sin PS = tan (- 23° 26’ 11”) x sin (-16° 25’ 42,71”) / tan (-7 ° 48’)
Sin PS = -0,4335044056421398 x (-0,2828191142577135) / ( -0,1369829606388288)
Sin PS = -0,8950261511268120
PS = (- 63,5117890264540068)
PS = (- 63° 30’ 42,44” )

0S = PS – P0
0S = (- 63° 30’ 42,44” ) – ( - 16° 25’ 42,71”)
0S = (- 63° 30’ 42,44” + 16° 25’ 42,71”)
0S = (-47° 04’ 59,73”)
Tanda negatif menunjukkan bahwa waktu dihitung ke arah kanan (Timur) atau dihitung mundur dari jam 12.

(-47° 04’ 59,73”) dijadikan jam   dengan dibagi 15
(-47° 04’ 59,73”) / 15 = -3j 08m 20d
12 - 3j 08m 20d = 8 : 51 : 40 istiwak
Dijadikan  WIB = 8 : 51 : 40 -  0 : 21 : 24 + 0 : 1 : 15
= 08 : 31 : 31 WIB


Sampai di sini bisa disimpulkan bahwa pa tanggal 22 Desember 2011 Matahari berada di arah qiblat Yogyakarta pada jam 08 : 31 : 31 WIB.
Namun bila menghendaki hasil yang lebih presisi dalam detiknya maka perhitungan busur PS diulang lagi dengan nilai deklinasi Matahari pada jam yang didapatkan, yaitu jam 08 : 31 : 31 WIB, karena perhitunga yang terdahulu adalah menggunakan nilai deklinasi jam 12 : 00 : 00 sebagai ancar-ancar.

Terakhir yang perlu diketahui bahwa bayangan qiblat tidak akan terjadi jika harga mutlak deklinasi hari itu lebih besar dari sudut qiblat. Karena jika harga mutlak deklinasi lebih besar dari sudut qiblat maka saat possisi matahari mengarah qiblat, matahari sudah tenggelam atau belum terbit,

Untuk kasus Yogyakarta yang arah Qiblatnya 24° 42’ 55,67” masih lebih besar dari harga mutlah deklinasi maksimal 26° 27’ sehingga bisa dihitung sepanjang tahun, kecuali saat harga deklinasi sama atau hampir sama dengan nilai lintang Yogyakarta  -7° 48’ . saat deklinasi besarnya sama dengan nilai lintang maka saat matahari mengarah ke qiblat adalah saat matahari berkulminasi di tiitik puncak jam 12, sehingga tidak ada bayang-bayang.